Penyihir Swis Abad Ke Enam Belas Menulis Tentang Apa Yang Disebutkan Sebagai Aquastor

Penyihir Swis Abad Ke Enam Belas Menulis Tentang Apa Yang Disebutkan Sebagai Aquastor

Kevin menyangkal bahwa robot nya tidak miliki kesadaran dengan segala sifat kesadaran manusia, tidak juga anjing. Anjing sadar dengan cara dengan cara anjing, dan robotnya sadar dengan cara robot. Tentu dalam beberapa hal-hal semacam kemampuan untuk membuat perhutingan matematis besar secara cepat robot-robot memperlihatkan sebuah kesadaran yang luar bisa di bandingkan kesadaran kita sendiri.

Kita mungkin memikirkan tentang kesadaran emanasi dari pikiran kosmis dalam istilah yang sama. Kita juga mungkin di ingatkan juga guru-guru Daftar Poker IDN spiritual tibet yang di katakan mempu membentuk sejenis pikiran yang di sebut tuplas dengan cara pemusatan perhatian yang kuat dan visualisasi. Orang-orang seperti ini kita bisa menyebutkan mereka sebegai makluk berfikir menjalani semacam ke hidup pan yang mandiri seder hana dan memuja gurunya mereka.

Demikian dengan paracelus, mahluk yang oleh kekuatan dari imajinasi terpusat yang mungkinmenghasilkan kehidupan sendiri dan dalam ke adan khusus menjadi terlihat bahkan berwujud.

Ini membawa saya ke titik yang sulit. Karena Tuhan ini telah terlanjur secara khusus dikenal sebagai berjenis “laki-laki”, dan dalam bahasa Inggris kaum monoteis lazim merujuk kepada. Nya dengan kata ganti “he”. Pada masa sekarang, kaum feminis dengan sangat sadar menaruh keberatan terhadap hal ini.

Penggunaan kata ganti maskulin untuk Tuhan ini menimbulkan persoalan dalam sebagian bahasa bergender. Akan tetapi, dalam bahasa Yahudi, Arab, dan Prancis, gender gramatikal memberikan nada dan dialektika seksual terhadap diskursus teologis, yang justru dapat memberikan keseimbangan yang sering tidak terdapat di dalam bahasa Inggris.

Misalnya,kata Arab Allah nama tertinggi bagi Tuhan adalah maskulin secara gramatikal, tetapi kata untuk esensi Tuhan yang ilahiah dan tak terjangkau Al-Dzat adalah feminin. Semua perbincangan tentang Tuhan adalah perbincangan yang sulit. Namun, kaum monoteis bersikap amat positif tentang bahasa sembari tetap menyangkal kapasitasnya untuk mengekspresikan realitas transenden. Tuhan orang Yahudi, Kristen, dan Islam adalah Tuhan yang dalam beberapa pengertian berkata-kata berfirman. Firmannya sangat krusial di dalam ketiga agama besar itu. Firman Tuhan telah membentuk sejarah kebudayaan kita. Kita harus memutuskan apakah kata Tuhan masih tetap memiliki makna bagi kita pada masa sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *